Identifikasi Kesehatan Melalui Warna Feses Anda

EETerkadang kita semua seharusnya mengerti dengan bahasa tubuh kita.

Kita yang mengenal dan bertanggung jawab untuk tubuh yang kita miliki, termasuk kesehatan yang harus kita jaga.

Ternyata kita bisa melihat gejala-gejala dan pertanda untuk mengidentifikasikan apakah kita sehat atau sakit melalui warna feses yang kita keluarkan. Maka dari itu saya selalu percaya quotes “YOU ARE WHAT YOU EAT.”

Vemale.com - Tanpa harus terlebih dahulu memeriksakan diri ke dokter, sebenarnya Anda bisa mendeteksi sakit yang Anda derita lewat warna tinja.

Bahkan dokter sekalipun akan menggunakan bantuan deteksi warna tinja untuk mengumpulkan data observasi yang menentukan kondisi tubuh dan obat apa yang harus dikonsumsi pasien. Umumnya, warna tinja ini sangat sensitif dan menunjukkan kondisi organ di dalam perut. Bila warnanya kuning kecokelatan, tandanya tubuh Anda normal.

Seperti dikutip dari mayoclinic, beberapa kondisi ini perlu Anda cermati karena menunjukkan adanya sakit yang diderita.

Warna tinja hijau

Tandanya makanan terlalu cepat masuk ke dalam pencernaan dan prosesnya belum sempurna. Dalam kondisi ini, Anda bisa mengalami diare bila kondisi terus menerus dibiarkan.

Namun, kondisi ini juga bisa disebabkan karena mengonsumsi makanan yang warnanya hijau atau mengandung pewarna hijau.

Warna tinja putih atau pucat

Tandanya kekurangan cairan penting di dalam empedu. Kondisi ini bisa sangat berbahaya apabila selama berhari-hari warna tinja tidak berubah. Anda harus segera mengecek kondisi kesehatan pada dokter, karena empedu mungkin bermasalah.

Ada kemungkinan lain yang menyebabkan hal ini terjadi. Pada beberapa kasus medis, sebagian obat dapat menyebabkan warna tinja menjadi putih atau pucat.

Warna tinja kuning

Bila warna tinja kuning dan berbau tak sedap, tandanya tubuh sedang kelebihan asupan lemak. Anda harus mengurangi mengonsumsi makanan yang terlalu berlemak.

Kondisi ini juga bisa saja terjadi apabila asupan protein Anda terlalu berlebihan.

Warna tinja hitam

Ada pendarahan di organ perut bagian atas ketika tinja yang keluar berwarna hitam. Namun, ini juga bisa terjadi apabila Anda kelebihan zat besi atau usai makan makanan yang berwarna hitam.

Warna tinja kemerahan

Ada pendarahan di organ perut bagian bawah, bisa saja di saluran kencing, atau karena ambeien. Penyebab lainnya adalah karena Anda terlalu banyak mengonsumsi makanan berwarna merah seperti beet, buah naga merah, jus tomat, sup merah, dan lain sebagainya.

Apabila warna tinja seperti disebutkan di atas, terlebih dahulu lakukan observasi. Bila selama 2-3 hari berturut-turut warnanya sama, maka segera cek kondisi Anda ke dokter.

Berikut share dari saya, semoga bermanfaat, mengertilah dengan diri anda sendiri.

Mengenal Istilah Product Test

Image

Di dalam dunia FMCG ada beberapa teknik dan metode yang digunakan dalam pengujian produk, khususnya untuk produk makanan dan minuman.

Berikut ini jenis metode yang digunakan dala product test menurut sumber :

Monadic Research Design

Monadic testing typically is the best method for product testing or product optimization. Testing a product alone offers many advantages. Interaction between products (which occurs in paired-comparison tests) is eliminated. The monadic test simulates real life (that’s the way we usually use products, one at a time). By focusing the respondent’s attention upon one product, the monadic test provides the most accurate and actionable diagnostic information. Additionally, the monadic design permits the use of normative data and the development of norms and action standards.

Virtually all products can be tested monadically, whereas many products cannot be accurately tested in paired-comparison designs. For example, a product with a very strong flavor (hot peppers, alcohol, etc.) may deaden or inhibit the taste buds so that the respondent cannot really taste the second product.

Sequential Monadic Research Design

Sequential monadic designs are often used to reduce costs. In this design, each respondent evaluates two products (he or she uses one product and evaluates it, then uses the second product and evaluates it). The sequential monadic design works reasonably well in most instances, and offers some of the same advantages as pure monadic testing.

One must be aware of what we call the “suppression effect” in sequential monadic testing, however. All the test scores will be lower in a sequential monadic design, compared to a pure monadic test. Therefore, the results from sequential monadic tests cannot be compared to results from monadic tests. Also, as in paired-comparison testing, an “interaction effect” is at work in sequential monadic designs. If one of the two products is exceptionally good, then the other product’s test scores are disproportionately lower, and vice versa.

Protomonadic Research Design

The protomonadic design (the definition of this term varies greatly from researcher to researcher) begins as a monadic test, followed by a paired-comparison. Often sequential monadic tests are also followed by a paired-comparison test. The protomonadic design yields good diagnostic data, and the paired-comparison test at the end can be thought of as a safety net—as added insurance that the results are correct. The protomonadic design is typically used in central-location taste testing, not in home use test (because of the complexity of execution in the home).

Paired-Comparison Test

Paired-comparison designs (in which the consumer is asked to use two products and determine which product is better) appeal to our common sense. The paired-comparison is a wonderful design if presenting evidence to a jury, because of its “face value” or “face validity.” It can be a very sensitive testing technique (i.e., it can measure very small differences) between two products. Also the paired-comparison test is often less expensive than other methods, because sample sizes can be smaller in some instances.

Paired-comparison testing, however, is limited in value for a serious, ongoing product-testing program. The paired-comparison test does not tell us when both products are bad and does not lend itself to the use of normative data. It is heavily influenced by the “interaction effect” (i.e., any variations in the control product will create corresponding variance in the test product’s scores).

Repeated Pairs Test

A repeated paired-comparison taste test is exactly what the name suggests. Each respondent participates in a paired-comparison taste test (e.g., product J versus product H), followed by a second paired-comparison test (product J versus product H). However, in the second test, the products are presented as two different products (i.e., not labeled as products J and H).

The purpose of the repeated paired-comparison taste test is to identify nondiscriminators, the people who don’t choose the same product in both tests. That is, it is assumed that someone who chooses product J in the first paired-comparison test and chooses product H in the second paired-comparison test cannot taste (or detect) any difference between the two products. Typically, these nondiscriminators’ answers would not be counted. The final results would be based only on respondents who could discriminate between the two products (i.e., based only on those who chose the same product both times).

Triangle Test

The triangle taste test is used primarily for “difference testing.” Each participant is presented with three products and asked to taste all three and choose the one that is different from the other two. The triangle taste test is used to determine who can discriminate (i.e., consistently identify the one product that’s different), and who cannot.

These discriminators are in turn used as members of small expert panels (sometimes called sensory panels) to assist research and development in formulating and reformulating products, using the triangle design to determine if a particular ingredient change, or a change in processing, creates a detectable difference in the final product. Triangle taste testing is also used in quality control to determine if a particular production run (or production from different factories) meets the quality-control standard (i.e., is not different from the product standard in a triangle taste test using discriminators).

Semoga bisa membantu :)

APPLE, THE BEST BRAND IN THE WORLD.

Untuk pertama kalinya dalam 13 tahun terakhir, perusahaan survei merek Interbrand mengumumkan jawara baru untuk merek paling terkenal, yaitu Apple. Perusahaan pembuat ponsel iPhone ini menggeser perusahaan minuman ringan Coca-Cola, yang terus menerus memimpin sejak 2000. 

Menurut perhitungan Interbrand, Apple memiliki nilai merek sekitar US$ 98,3 miliar (sekitar Rp 1.081 triliun). Peringkat dua diduduki perusahaan teknologi lainnya, yaitu Google dengan US$ 93,3 miliar (sekitar 1.026 triliun).” Sesekali sebuah perusahaan mengubah hidup masyarakat, tidak hanya lewat produk berkualitas namun juga etos kerja,” kata Jez Frampton, Chief Executive Officer Interbrand soal pemilihan Apple sebagai nomor satu.

 Perusahaan Samsung asal Korea Selatan menempati posisi ke delapan dari sembilan pada tahun lalu, dengan kenaikan 20 persen nilai merek. Samsung bertukar tempat dengan Intel, yang turun lima persen nilai produknya. Interbrand memadukan penilaian kinerja keuangan, pengaruh produk pada konsumen, dan kemampuan perusahaan menjual produk premium.

(TEMPO.CO, Jakarta -  CNET | BUDI RIZA)

Sumber 

BRAND SWITCHING CASE STUDY : Tukarkan iPad, Dapat Microsoft Surface

Microsoft mengeluarkan jurus agresif dalam memasarkan komputer tablet terbaru buatan mereka, Surface. Pabrikan komputer dan software terbesar di dunia ini menggelar kampanye tukar tambah bagi pemilik iPad yang berminat membeli Surface.

 Kantor berita BBC mengabarkan, Microsoft menawarkan voucher senilai US$ 200 atau sekitar Rp 2,2 juta bagi setiap orang yang mau menukar iPad dengan Surface RT dan Surface Pro yang baru meluncur di pasaran. Voucher tersebut bisa dibelanjakan di toko online Microsoft dan bisa dipakai membeli Surface RT seharga US$ 349 dan Surface Pro seharga US$ 799.

 Kampanye tukar tambah menjadi cara Microsoft untuk menggoda pengguna iPad agar beralih ke tablet Surface yang berbasis Windows. Sebelumnya, pada Mei 2013, Microsoft juga meluncurkan situs iPad vs Windows yang membandingkan secara head to head dua tablet itu.

 Strategi semacam ini menjadi cara Microsoft untuk menebus kegagalan dalam memasarkan tablet Surface sepanjang tahun ini. Pada kuartal pertama 2013, penjualan tablet Surface hanya mencapai 900 ribu unit. Jauh di bawah iPad yang bisa laku hingga 19,5 juta unit. Akhirnya, pada kuartal kedua 2013, Microsoft terpaksa menurunkan produksi Surface menjadi 300 ribu unit.

 Meski jorjoran, para analis menilai strategi pemasaran Microsoft tersebut tidak berguna. Analis lembaga riset Gartner, Van Baker, ragu apakah pengguna iPad mau mengganti gadget-nya dengan Microsoft Surface. Alasannya, ekosistem aplikasi Microsoft masih bermasalah dan jumlah aplikasi iPad jauh lebih banyak dibanding pada Surface. “Apakah akan ada banyak orang yang tertarik dengan penawaran ini? Jawabannya hanya satu kata, tidak,” kata dia.

 (Sumber : FERY FIRMANSYAH-TEMPO.CO)

 http://id.berita.yahoo.com/tukarkan-ipad-dapat-microsoft-surface-063504698.html

 

Launch iPhone 5S dan iPhone 5C Dengan Segmen Harga Yang Lebih Murah

iPhone 5S diperkirakan muncul dengan warna emas [ilustrasi]

Salah satu yang akan menyedot perhatian dalam acara peluncuran produk terbaru Apple adalah iPhone versi murah, iPhone 5C.

Nah, ngomong-ngomong soal berapa harga pasti iPhone 5C, masih terlalu beragam prediksi. Tentu banyak yang berharap, harga iPhone 5C bisa terjangkau olah pengguna Apple di berbagai belahan dunia. 

Seorang teknisi dan pemerhati finansial dari Silicon Valley and Wall Street, Sammy the Walrus IV, terdapat prediksi harga murah iPhone dalam dua kategori berdasarkan adanya subsidi atau tidak dalam pasar sebuah negara tertentu.

Untuk kawasan yang disubsidi ini merujuk pada kontrak tahunan dengan operator seluler. Mekanisme ini biasa dilakukan di pasar Amerika Serikat, dilansir Business Insider,Selasa 10 September 2013.

Diprediksi untuk pasar negara yang biasa menerapkan subsidi harga, iPhone 5S dengan opsi 128 GB yang kemungkinan muncul dengan warna emas, pemindai sidik jari, peningkatan kamera, dan prosesor diperkirakan US$199 setara Rp2,2 juta.

Sementara untuk iPhone 5C, yang kemungkinan tersedia dalam pilihan beragam warna, dibanderol US$99 setara Rp1,1 juta. Tentu di balik harga yang murah, ada kontrak berlangganan selama periode waktu tertentu pada pelanggan.

Sementara di negara-negara yang tidak menerapkan mekanisme subsidi, harga iPhone 5S dengan 128 GB dan kategori yang sama di atas diperkirakan berkisar mulai US$650, setara Rp7,2 juta.

Sementara iPhone 5C diprediksi seharga US$499 setara Rp5,54 juta.

iPhone berkategori murah itu memang tidak semurah yang dibayangkan. Pasalnya, sudah hampir memuncak, harga kisaran iPhone murah ada pada kisaran Us$399-US$499 setara Rp4,4 -5,5 juta. (umi)

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/442867-berapakah-harga-iphone-5s-dan-iphone-5c-

SEBAR CV BAIK GAK SIH? BACA INI DULU

Apakah Anda salah satu orang yang merasa–seperti melamar pekerjaan secara online–bahwa memberikan CV Anda kepada orang-orang adalah kegiatan mencari kerja yang produktif?

Biarkan saya menghemat tenaga Anda. Jangan berikan CV Anda kepada saya. Seringkali saya malah tak membutuhkannya. Saya malah akan segera membuangnya setelah Anda pergi dari hadapan saya. Lebih parah lagi, saya akan menceritakannya dengan seseorang dengan cara yang kontraproduktif.
Kebanyakan CV pencari kerja sangat buruk dan tidak wajar. (iStockphoto)
Entah itu menyangkut membuat jaringan baru, pertemuan dengan rekan bisnis, atau mengupayakan pekerjaan yang jelas, “Kirimkan CV Anda kepada saya” adalah permintaan umum yang seringkali dijumpai para pencari kerja. Terkadang kelihatannya setiap orang menginginkan CV Anda. Akibatnya, banyak para pencari kerja membuang energi yang berharga dengan menulis kembali dan menyebarkan CV mereka. Hal tersebut langsung memunculkan dua masalah… bagaimana cara menulis CV yang sempurna dan kapan harus memberikannya kepada orang lain.

Kebanyakan CV pencari kerja sangat buruk dan tidak wajar. Seperti musik pop, mereka berulang-ulang dan tidak memiliki konten yang berbobot. Saya memberikan bantuan di posting sebelumnya yang berjudul “Lima Kiat Membuat CV Anda Lebih Baik”. Kiat-kiat tersebut mungkin tidak bisa membantu Anda membuat CV yang sempurna, namun akan membuatnya lebih efektif dan berbeda.

Dan, bagaimana dengan masalah lain yang saya sebutkan… kapan Anda harus memberikan CV Anda kepada orang lain? Haruskah Anda memberikannya kepada setiap orang yang memintanya? Seperti yang tertulis di “Fast Track Your Job Search (and Career!)“, saya yakin “menunda memberikan CV Anda merupakan strategi cerdas untuk dipertimbangkan” dalam banyak kondisi: 

Kondisi pertama: Anda melamar untuk sebuah pekerjaan secara online. Saya kurang begitu suka melamar pekerjaan secara online kecuali Anda memiliki ‘orang dalam’ atau berencana menjalin hubungan dengan beberapa orang dalam. Seorang pencari kerja baru-baru ini bertanya kepada saya, “Apakah ada orang direkrut tanpa memiliki orang dalam?” Pertanyaan tersebut menekankan pentingnya orang dalam. Terlepas dari entah Anda memiliki kenalan di perusahaan itu atau tidak, Anda harus memberikan CV Anda atau risiko terburuknya adalah dieliminasi.

Kondisi kedua: Anda membangun jaringan dengan rekan bisnis yang sudah Anda kenal. Saya tidak suka memberikan CV kepada orang-orang hanya karena mereka memintanya. Yang ingin saya tahu adalah MENGAPA mereka menginginkan CV tersebut dan APA yang akan mereka lakukan dengan CV itu. Berdasarkan pengalaman dengan ratusan pencari kerja selama 11 tahun belakangan, berikut adalah saran saya:

  • Jika mereka menginginkan CV untuk mengetahui kemampuan Anda, ajaklah mereka berkomunikasi lewat telepon atau secara langsung sebagai alternatif. Percakapan itu memungkinkan Anda untuk memberikan informasi penting yang mereka inginkan dan juga bisa memberikan klarifikasi. Memberikan CV Anda kepada mereka mungkin akan membatasi komunikasi dan menempatkan Anda dalam bahaya karena salah paham.
  • Jika mereka menginginkan CV anda sebagai sarana untuk memperkenalkan Anda kepada jaringan rekan baru, mintalah mereka untuk mengenalkan Anda tanpa perlu mengirim CV. Tanyakan kepada mereka informasi seperti apa yang mereka butuhkan dari Anda untuk membuat perkenalan itu berjalan efektif dan berikan dalam format yang ringkas.Melakukan percakapan jauh lebih efektif dibandingkan lewat CV.
  • Jika mereka membutuhkan CV untuk diberikan kepada pembuat keputusan sehubungan dengan pekerjaan, dan kemudian tanyakan apakah mereka bisa memperkenalkan dan mempertemukan Anda dengan si pembuat keputusan. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, kemudian mintalah mereka untuk mengambil CV itu dan berbicara langsung dengan orang itu.

Situasi ketiga: Anda membangun jaringan dengan rekan bisnis baru. Saya tidak suka memberikan CV pada orang yang baru saya kenal hanya karena mereka memintanya. Saya menyarankan Anda untuk mengikuti pedoman yang sama seperti rekan lama untuk rekan-rekan baru. Karena, saya tahu bahwa rekan baru lebih banyak permintaan. Jika mereka adalah pembuat keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan yang Anda dambakan, berusahalah untuk bertemu langsung dengan mereka tanpa memberikan CV. Tonjolkan kemampuan terbaik Anda.

Kebanyakan pencari kerja gemar menyebarkan CV mereka dan mempostingnya di internet. Tindakan semacam itu sangat tidak berarti dan bisa kontraproduktif. Saya menyarankan Anda untuk MENOLAK memberikan CV Anda kepada orang-orang dan bertindak lebih strategis.

Penulis: 

Richard Kirby adalah konsultan karir eksekutif, pembicara di bidang strategi karier, dan penulis “Fast Track Your Job Search (and Career!)”. Pengalaman Richard Kirby sebelumnya meliputi pengelolaan teknik, sumber daya manusia (HRD), pemasaran dan tim penjualan untuk para perekrut kerja mulai dari Fortune 100 sampai perusahaan kewirausahaan yang didanai VC. Selama sebelas tahun berkarier di Executive Impact, Richard sudah membantu ratusan eksekutif dan para profesional berhasil menavigasi pasar kerja yang sudah berubah di abad ke-21 saat ini dan mendapatkan pekerjaan yang baik untuk mereka sendiri. Keahlian Richard meliputi penilaian karier dan penetapan tujuan, pemasaran pribadi/pemberian merek, meningkatkan perbaikan, strategi dalam menjalin hubungan dan wawancara kerja, dan “penentang” metodologi pencarian kerja. Ia merupakan seorang Board Certified Coach (dalam pembinaan karier) dan Certified Management Consultant (diakui oleh ISO).(mr/nh)

Mengenal Apa Itu TangKwee

ImageTan

Tang Kwe atau sering juga disebut Tangkue adalah manisan yang dibuat dari Labu Putih atau Bligo.

Bligo sendiri adalah jenis labu besar, berkulit sangat keras tetapi dagingnya renyah dan banyak mengandung air. Warna kulitnya hijau gelap dengan daging buah berwarna putih bening.

Setelah dikupas dan dipotong dadu panjang seperti telunjuk, daging labu kemudian dimasak dengan gula, dan dikeringkan. Sedemikian rupa sehingga didapat manisan Tangkue yang garing dan manis sekali.

Tang Kwe, dapat dibeli di supermarket besar atau dipasar tradisional khususnya di toko yang menjual aneka manisan.

Tips Efisiensi : Cut Your Meeting Time By 90%

Image

“Managers do things right, while leaders do the right thing(s).” –Warren Bennis, scholar and organizational expert

Most advice on meetings focuses on the “how.” But the effort to improve meetings must start with the “what.” No matter how efficiently you meet about the wrong things, they are still the wrong things to meet about.

I have sat in hundreds of bad meetings: no goals, no agenda, no preparation, no documents, no schedule, no minutes, no action items, no follow-up, and so on. We all hate these meetings. We all want to improve them. That’s why Influencers’ posts on meeting management are some of the most popular.

But they do not address what I consider the major problem: Most meeting time is wasted because people aim at the wrong target.

In this post, I will suggest a way to cut your meeting time. Not by meeting about the same things faster, but by meeting about fewer things. This recommendation has reduced meeting time by 90% in one of my clients.

This does not mean that you can do the work in 10% of the time. You have to devote significant out-of-meeting effort to resolve the issues, but working more efficiently, enjoying a happier mood, and achieving better results.

What’s The Secret?

The only goal for a meeting is “to decide and commit.” No other objective is worth meeting for.

No meetings to “discuss.”
No meetings to “update.”
No meetings to “review.”
No meetings to “inform.”
No meetings to “report.”
No meetings to “present.”
No meetings to “check.”
No meetings to “dialogue.”
No meetings to “evaluate.”
No meetings to “connect.”
No meetings to “think.”
No meetings to “consider.”
No meetings to “educate.”
No meetings to anything but “decide and commit.”

Of course, in order to decide and commit it is necessary to share information, monitor progress, provide updates, review materials, discuss ideas, analyze options, and evaluate costs and benefits. These are very reasonable ways to spend the time of a meeting.

But those are intermediate goals; the final goal is to perform. And to perform effectively a team needs to decide intelligently, commit resolutely, and execute impeccably. A good meeting focuses on the first two, in order to accomplish the third.

Swing Through The Ball

If you learned tennis or golf you must have heard your instructor say, “swing through the ball.” If you swing at the ball you will cut your swing short and will hit with significantly less power. Of course you will hit the ball as you swing through it, but the right aim is to finish the swing, not to hit the ball.

In the same spirit, “Meet to decide and commit.” If you meet to discuss, you will cut your effort short and will work with significantly less power. Of course, you will discuss in order to decide and commit, but the right aim is to do, not to talk.

Yet many teams practice “voodoo management.” They believe that talking about an issue is enough to (magically) solve it. They take pride of “working” on something while they only express opinions about what “ought to be done.” But as I wrote here, there is no action without commitment. Not surprisingly, everybody feels frustrated because the issue remains unsolved “after all the time we spent talking about it.”

The Value of Information

Imagine you are locked up in a cell, incommunicado, for the next 24 hours. I offer to tell you the winning number of the lottery that will be picked this very evening. The will-be-winning ticket, worth $100,000,000, is still available. How much should you pay for the information?

Nothing.

This information is worthless to you because you cannot act on it.

Information is valuable insofar as it may allow you to produce better results that you would have gotten without it. Unless the information may lead you to act differently than you would have acted had you not known it, its value is zero.

Since you can neither buy, nor ask someone else to buy the lottery ticket, the winning number is worthless to you.

The same thing happens with a meeting. Unless the meeting may lead people to act in a different way they would have acted had they not had the meeting, its value is zero—no matter how efficiently it is run.

An Expensive Proposition

Meeting requires that all participants be in the same (virtual) place at the same time. This is an expensive proposition. There is only one practical reason to justify it: the interactive design and evaluation of alternative strategies, and the collective decision and commitment to pursue the strategy that the team believes is most conducive to its mission.

(There are social and emotional reasons to get together, but regular meetings pursue tasks, rather than relationship goals.)

There are many ways for a team to stay up to date on the status of initiatives, receive progress reports, share information, request clarifications, ask questions, express concerns, raise objections, make suggestions, and propose options without having to meet. Email and shared documents seem almost prehistoric in comparison to the many e-tools available today, but even they work quite well.

The single thing that can only be done interactively is to assess the global impact of alternative courses of action on the team’s mission. This exercise requires pooling each member’s information about her area of responsibility and her knowledge about the opportunities and threats that it will trigger in her local environment.

For example, a global leadership team from one of the top three IT companies in the world, whom I have been helping for several years, have stopped meeting (by video-conference) four hours a week to “monitor progress” of their different projects. They now use shared documents where each project owner writes a review with three points: (a) what have we done last week, (b) what are we planning to do next week, (c) any issues I need help to resolve. Only when (c) requires the whole team’s interaction there is a team meeting. Otherwise, there are sub-team meetings on the side to deal with the specifics.

Only people relevant to the matter are invited to this side conversations. Nobody sits idle during the discussion, and everybody present has a valuable role to play in deciding and committing to solve the problem.

The team now meets every four months in person, to explore new strategies and connect at a human level. Everybody loves these meetings, which take about 10% of the time the weekly updates used to take.

The Acid Test

Pick a red marker and search your agenda for terms such as “discuss,” “update,” “review,” and other non-decisive verbs. Cross them out and see what is left.

Then put any remaining item through the following three-question test:

  1. “What will we do differently if we succeed in this meeting?”
  2. “Why do we need to meet to accomplish this?”
  3. “How will this help us further the goal of the team?”

I bet that 90% of your meeting time goes away.

 

-Fred Kofman-